Pengenalan Sosok Prasejarah dari Sulawesi
Di belantara hutan hujan tropis Sulawesi dan beberapa pulau di sekitarnya, hidup seekor makhluk yang seolah melompat dari halaman buku dongeng atau catatan fosil prasejarah. Hewan ini dikenal dengan nama Babi Rusa, sebuah nama yang mencerminkan keunikan fisiknya yang membingungkan. Dengan tubuh menyerupai babi namun memiliki taring dramatis yang melengkung ke belakang layaknya tanduk rusa, Babi Rusa (genus Babyrousa) adalah salah satu mamalia paling aneh dan memukau di dunia. Keberadaannya yang terbatas secara geografis menjadikannya sebagai harta karun hayati Indonesia yang tak ternilai, sekaligus simbol kerapuhan ekosistem pulau yang terisolasi.
Babi Rusa bukan sekadar babi biasa. Ia adalah anggota keluarga babi (Suidae) yang telah menempuh jalur evolusi yang sangat berbeda dari kerabatnya di seluruh dunia. Isolasi geografis selama jutaan tahun di kepulauan Wallacea telah membentuknya menjadi makhluk dengan adaptasi dan morfologi yang tidak ditemukan pada spesies babi lainnya. Ciri paling mencolok, tentu saja, adalah taring atas pejantan yang tidak tumbuh ke samping atau ke bawah, melainkan menembus atap moncongnya dan melengkung ke arah mata. Fenomena biologis ini telah memikat para naturalis, ilmuwan, dan masyarakat lokal selama berabad-abad, memunculkan berbagai teori tentang fungsi dan asal-usulnya. Artikel ini akan mengupas secara mendalam setiap aspek kehidupan Babi Rusa, dari klasifikasi ilmiahnya yang rumit, anatomi taringnya yang luar biasa, perilaku sosialnya yang misterius, hingga tantangan konservasi yang dihadapinya di era modern.
Etimologi dan Penamaan: Persilangan Imajinasi
Nama "Babi Rusa" sendiri merupakan cerminan langsung dari pengamatan masyarakat lokal di Indonesia. Gabungan kata "babi" (pig) dan "rusa" (deer) secara sempurna menangkap esensi visual hewan ini. Tubuhnya yang kekar, moncongnya yang panjang, serta kebiasaannya berkubang di lumpur jelas mengidentifikasikannya sebagai sejenis babi. Namun, taring atas pejantan yang panjang dan melengkung ke atas mengingatkan pada ranggah atau tanduk rusa. Penamaan deskriptif ini sangat efektif dalam menyampaikan keunikan utama dari hewan tersebut kepada siapa saja yang belum pernah melihatnya.
Di dunia ilmiah, Babi Rusa ditempatkan dalam genus Babyrousa. Nama ini juga berasal dari gabungan kata yang sama dalam bahasa Melayu. Para ahli taksonomi Eropa awal yang mendeskripsikan spesies ini tampaknya mengadopsi nama lokal tersebut karena dianggap sangat pas. Dalam berbagai bahasa daerah di Sulawesi, Babi Rusa juga memiliki nama-nama lokal lain yang mencerminkan hubungan budaya yang erat antara hewan ini dan masyarakat setempat, seperti "Bani" atau "Favu" dalam beberapa dialek lokal. Penamaan ini menunjukkan betapa Babi Rusa telah menjadi bagian integral dari lanskap alam dan budaya di wilayah sebarannya.
Klasifikasi Ilmiah dan Jejak Evolusi
Memahami posisi Babi Rusa dalam pohon kehidupan sangat penting untuk mengapresiasi keunikannya. Secara taksonomi, Babi Rusa adalah bagian dari keluarga Suidae, yang mencakup semua jenis babi dan babi hutan di seluruh dunia. Namun, Babi Rusa ditempatkan dalam subfamili tersendiri, yaitu Babyrousinae. Hal ini menunjukkan bahwa Babi Rusa merupakan cabang evolusi yang sangat awal dan terpisah dari kelompok babi lainnya (subfamili Suinae).
Berikut adalah klasifikasi ilmiah lengkapnya:
Kerajaan: Animalia
Filum: Chordata
Kelas: Mammalia
Ordo: Artiodactyla
Famili: Suidae
Subfamili: Babyrousinae
Genus: Babyrousa
Jejak fosil menunjukkan bahwa leluhur Babi Rusa kemungkinan besar telah terisolasi di Sulawesi setidaknya sejak zaman Pliosen atau bahkan Miosen akhir. Isolasi panjang ini memungkinkan mereka berevolusi secara independen, tanpa tekanan kompetisi dari spesies babi lain dan dengan predator yang relatif sedikit. Evolusi dalam isolasi ini dikenal sebagai "efek pulau," yang sering kali menghasilkan bentuk-bentuk kehidupan yang unik dan kadang-kadang aneh, seperti yang kita lihat pada Babi Rusa.
Hingga beberapa waktu lalu, semua Babi Rusa dianggap sebagai satu spesies tunggal, yaitu Babyrousa babyrussa. Namun, penelitian genetik dan morfologi yang lebih mendalam telah merevisi klasifikasi ini. Kini, para ilmuwan mengakui adanya beberapa spesies yang berbeda, meskipun perdebatan mengenai jumlah pastinya masih berlangsung. Spesies yang umum diakui saat ini adalah:
Babi Rusa Sulawesi (Babyrousa celebensis): Ditemukan di sebagian besar daratan utama Sulawesi. Ini adalah spesies yang paling umum dan paling sering terlihat.
Babi Rusa Kepulauan Togian (Babyrousa togeanensis): Endemik di Kepulauan Togian di Teluk Tomini. Spesies ini memiliki ukuran lebih besar dan taring yang lebih khas.
Babi Rusa Maluku (Babyrousa babyrussa): Ditemukan di Kepulauan Sula dan Pulau Buru. Spesies ini memiliki rambut tubuh yang lebih panjang dan lebat dibandingkan spesies lainnya.
Babi Rusa Bola Batu (Babyrousa bolabatuensis): Sebuah spesies yang diusulkan berdasarkan temuan subfosil di bagian selatan Sulawesi, statusnya sebagai spesies hidup masih menjadi subjek penelitian lebih lanjut.
Pemisahan ini penting tidak hanya dari sudut pandang ilmiah, tetapi juga untuk strategi konservasi. Setiap spesies menghadapi ancaman yang berbeda dan mungkin memerlukan pendekatan perlindungan yang spesifik sesuai dengan habitat dan populasinya.
Anatomi dan Morfologi: Keajaiban Taring yang Menantang Logika
Struktur tubuh Babi Rusa adalah perpaduan antara ciri khas keluarga babi dengan adaptasi yang sangat unik. Memahami anatominya, terutama perkembangan taringnya, adalah kunci untuk membuka misteri hewan ini.
Taring: Mahkota Sekaligus Teka-teki
Taring adalah fitur yang mendefinisikan Babi Rusa, khususnya pada pejantan. Seperti babi lainnya, Babi Rusa memiliki dua pasang taring yang merupakan gigi taring (caninus) yang terus tumbuh sepanjang hidupnya. Namun, perkembangannya sangat berbeda dari kerabatnya.
Taring Bawah: Taring bawah pada Babi Rusa jantan tumbuh ke atas dan keluar dari sisi mulut, mirip dengan babi hutan pada umumnya. Taring ini sangat tajam dan berfungsi sebagai senjata utama dalam pertarungan antar pejantan untuk memperebutkan betina atau wilayah. Taring ini diasah secara alami ketika bergesekan dengan taring atas saat mengunyah atau bertarung.
Taring Atas: Inilah keajaiban anatomi yang sesungguhnya. Alih-alih tumbuh ke bawah atau ke samping, taring atas pada pejantan tumbuh lurus ke atas, menembus kulit dan tulang atap moncongnya. Setelah keluar, taring ini akan melengkung dengan anggun ke belakang, mengarah ke dahi dan mata. Pada individu yang sudah tua, lengkungan ini bisa sangat ekstrem, bahkan hingga ujung taring menyentuh atau menusuk kembali tengkorak di bagian dahi. Pertumbuhan yang berpotensi fatal ini adalah salah satu anomali paling menarik dalam dunia mamalia.
Babi Rusa betina juga memiliki gigi taring, tetapi ukurannya jauh lebih kecil dan sering kali tidak terlihat dari luar, atau jika tumbuh keluar, bentuknya tidak seekstrem pada pejantan. Perbedaan drastis ini dikenal sebagai dimorfisme seksual, yang menunjukkan bahwa taring memiliki peran penting dalam seleksi seksual.
Fungsi Taring Atas: Debat yang Tak Kunjung Usai
Fungsi pasti dari taring atas Babi Rusa jantan masih menjadi subjek perdebatan ilmiah. Beberapa hipotesis utama telah diajukan:
Alat Pertarungan (Defensif): Salah satu teori yang paling populer adalah bahwa taring atas berfungsi sebagai perisai pelindung selama pertarungan. Saat dua pejantan bertarung, mereka akan berdiri di atas kaki belakang dan saling memukul dengan kaki depan ("boxing"). Taring atas yang melengkung dapat menangkis atau mengunci taring bawah lawan yang tajam, melindungi wajah dan mata dari cedera serius.
Simbol Status dan Daya Tarik Seksual: Seperti tanduk rusa atau bulu merak, taring Babi Rusa jantan bisa jadi merupakan ornamen yang berevolusi melalui seleksi seksual. Pejantan dengan taring terbesar, paling simetris, dan paling melengkung mungkin dianggap lebih kuat, sehat, dan menarik bagi betina. Taring yang besar dan tidak patah menunjukkan bahwa pejantan tersebut memiliki gen yang baik dan mampu bertahan hidup, menjadikannya pasangan yang ideal.
Indikator Usia dan Kebugaran: Pertumbuhan taring yang terus-menerus menjadikannya indikator usia dan kesehatan pejantan. Taring yang panjang dan terawat baik menandakan individu yang sudah matang dan mampu mencari nutrisi yang cukup untuk mendukung pertumbuhan ornamen yang "mahal" secara metabolik ini.
Fungsi Sampingan (Spandrel): Beberapa ilmuwan berpendapat bahwa taring atas mungkin tidak memiliki fungsi utama yang spesifik, melainkan merupakan produk sampingan evolusi dari mekanisme pertumbuhan gigi taring yang tidak terkendali. Namun, mengingat bentuknya yang konsisten dan rumit, teori ini kurang populer.
Kemungkinan besar, fungsi taring atas adalah kombinasi dari beberapa faktor di atas. Ia berperan dalam ritual pertarungan, seleksi pasangan, dan sebagai penanda status sosial dalam populasi Babi Rusa.
Tubuh, Kulit, dan Adaptasi Lainnya
Selain taringnya, tubuh Babi Rusa juga menunjukkan adaptasi yang menarik. Ukuran tubuhnya bervariasi antar spesies, dengan panjang tubuh berkisar antara 85 hingga 110 cm dan berat bisa mencapai 100 kg. Kakinya relatif panjang dan ramping dibandingkan babi lainnya, yang mungkin merupakan adaptasi untuk bergerak lebih lincah di lantai hutan yang lebat dan terkadang berawa.
Kulit Babi Rusa tampak kasar, berkerut, dan hampir tidak berambut, terutama pada spesies B. celebensis. Warnanya bervariasi dari abu-abu kecoklatan hingga hampir hitam. Minimnya rambut ini mungkin merupakan adaptasi terhadap iklim tropis yang panas dan lembap, membantu dalam proses termoregulasi. Seperti babi lainnya, mereka sangat suka berkubang di lumpur, yang berfungsi untuk mendinginkan tubuh, melindungi kulit dari parasit dan sengatan matahari.
Satu lagi keunikan Babi Rusa terletak pada sistem pencernaannya. Lambung mereka memiliki kantung tambahan yang menunjukkan adanya fermentasi mikrobial, mirip dengan yang terjadi pada hewan pemamah biak (ruminansia) meskipun dalam skala yang lebih sederhana. Adaptasi ini memungkinkan mereka untuk mencerna serat tumbuhan, seperti daun dan batang, secara lebih efisien dibandingkan babi lain pada umumnya. Hal ini memberikan mereka keuntungan dalam memanfaatkan sumber daya makanan yang melimpah di habitat hutan mereka.
Habitat dan Sebaran Geografis
Babi Rusa adalah hewan endemik Kepulauan Wallacea, sebuah zona transisi biogeografis antara Asia dan Australia. Sebaran alaminya terbatas di Pulau Sulawesi, serta beberapa pulau di sekitarnya seperti Kepulauan Togian, Sula, dan Buru. Kehadiran mereka di Pulau Buru dan Sula kemungkinan besar disebabkan oleh introduksi oleh manusia di masa lampau sebagai hadiah atau barang dagangan.
Habitat ideal Babi Rusa adalah hutan hujan tropis dataran rendah yang lebat, terutama di dekat tepi sungai, danau, atau rawa. Mereka adalah perenang yang andal dan tidak ragu untuk menyeberangi sungai atau bahkan selat sempit antar pulau. Ketergantungan mereka pada sumber air tidak hanya untuk minum, tetapi juga untuk aktivitas berkubang yang sangat penting bagi kesehatan kulit dan pengaturan suhu tubuh mereka. Mereka sering ditemukan di area yang kaya akan vegetasi sumber makanan, seperti pohon buah-buahan, dan area dengan tanah gembur yang mudah digali untuk mencari umbi-umbian dan invertebrata.
Sayangnya, habitat ini terus menyusut akibat aktivitas manusia. Deforestasi untuk perkebunan kelapa sawit, pertanian, penebangan liar, dan perluasan pemukiman menjadi ancaman terbesar bagi kelangsungan hidup Babi Rusa. Fragmentasi habitat memisahkan populasi-populasi kecil, mengurangi keragaman genetik, dan membuat mereka lebih rentan terhadap perburuan dan penyakit.
Perilaku dan Gaya Hidup
Babi Rusa adalah hewan yang aktif pada siang hari (diurnal), menghabiskan sebagian besar waktunya untuk mencari makan. Mereka biasanya mulai aktif di pagi hari, menjelajahi lantai hutan untuk mencari buah-buahan yang jatuh, menggali umbi-umbian dengan moncongnya yang kuat, atau mencari serangga dan larva. Di tengah hari yang panas, mereka akan beristirahat di tempat teduh atau berkubang di lumpur.
Struktur Sosial
Struktur sosial Babi Rusa cukup fleksibel. Betina dan anak-anaknya seringkali hidup dalam kelompok kecil yang terdiri dari beberapa individu dewasa dan keturunan mereka. Kelompok ini memberikan perlindungan dari predator dan membantu dalam mencari sumber makanan. Pejantan dewasa, di sisi lain, cenderung hidup menyendiri (soliter) di luar musim kawin. Mereka hanya akan bergabung dengan kelompok betina ketika ada betina yang siap kawin. Pejantan-pejantan muda yang belum cukup kuat untuk bersaing mungkin akan membentuk kelompok bujangan kecil.
Komunikasi
Komunikasi antar Babi Rusa melibatkan kombinasi suara, aroma, dan bahasa tubuh. Mereka menghasilkan berbagai macam suara, mulai dari geraman pelan, dengusan, hingga pekikan keras saat terancam atau bersemangat. Aroma juga memainkan peran penting. Seperti babi lainnya, mereka memiliki kelenjar aroma yang digunakan untuk menandai wilayah atau mengkomunikasikan status reproduksi. Pejantan sering menggosokkan wajah dan taringnya pada pohon untuk meninggalkan jejak aroma mereka.
Ritual Pertarungan
Ketika musim kawin tiba, persaingan antar pejantan memanas. Pertarungan untuk mendapatkan hak kawin bisa menjadi tontonan yang dramatis. Dua pejantan akan saling berhadapan, mengeluarkan suara geraman, dan mencoba mengintimidasi satu sama lain. Jika intimidasi gagal, pertarungan fisik akan terjadi. Mereka akan saling mendorong, mencoba menggunakan taring bawah mereka untuk melukai lawan. Seperti yang telah disebutkan, taring atas yang melengkung kemungkinan besar berfungsi untuk menangkis serangan-serangan ini, mengubah pertarungan menjadi kontes kekuatan dan ketahanan, bukan pertempuran yang mematikan.
Diet dan Kebiasaan Makan
Babi Rusa adalah hewan omnivora, yang berarti mereka memakan berbagai jenis makanan, baik tumbuhan maupun hewan. Namun, diet utama mereka cenderung lebih berorientasi pada tumbuhan (herbivora/frugivora). Makanan favorit mereka adalah buah-buahan yang jatuh dari pohon, seperti mangga hutan, nangka, dan berbagai jenis beri. Mereka memainkan peran penting dalam ekosistem sebagai penyebar biji. Setelah memakan buah, biji-biji yang tidak tercerna akan dikeluarkan bersama kotoran di lokasi yang jauh dari pohon induk, membantu proses regenerasi hutan.
Selain buah, mereka juga memakan:
Daun dan Pucuk Muda: Berkat sistem pencernaan mereka yang unik, mereka dapat mengekstraksi nutrisi dari dedaunan.
Akar dan Umbi-umbian: Mereka menggunakan moncong mereka yang kuat untuk menggali tanah dan mencari sumber makanan di bawah tanah.
Jamur: Berbagai jenis jamur hutan menjadi bagian dari diet mereka.
Invertebrata: Mereka juga akan memakan cacing tanah, larva serangga, dan hewan-hewan kecil lainnya yang mereka temukan saat menggali tanah.
Vertebrata Kecil: Meskipun jarang, mereka diketahui memakan hewan pengerat kecil atau bangkai jika ada kesempatan.
Kebiasaan makan mereka menjadikan Babi Rusa sebagai "insinyur ekosistem" kecil. Aktivitas menggali tanah (rooting) membantu mengaerasi tanah dan mencampurkan nutrisi, yang dapat meningkatkan kesuburan tanah dan membantu perkecambahan benih.
Reproduksi dan Siklus Hidup
Siklus reproduksi Babi Rusa memiliki beberapa keunikan dibandingkan dengan anggota keluarga babi lainnya. Salah satu yang paling menonjol adalah ukuran tandu (litter size) mereka yang sangat kecil. Sementara babi pada umumnya dapat melahirkan hingga selusin anak dalam satu kali kelahiran, Babi Rusa betina biasanya hanya melahirkan satu atau dua anak saja. Ini adalah strategi reproduksi yang lebih mirip dengan hewan berkuku lain seperti rusa atau antelop, dan sangat tidak biasa untuk keluarga Suidae.
Masa kehamilan Babi Rusa berlangsung sekitar 150 hingga 157 hari (sekitar lima bulan). Menjelang kelahiran, betina akan membuat sarang yang terbuat dari tumpukan daun, ranting, dan vegetasi lainnya di tempat yang tersembunyi dan aman. Sarang ini berfungsi untuk melindungi bayi yang baru lahir dari cuaca dan predator.
Anak Babi Rusa yang baru lahir relatif sudah berkembang dengan baik (prekosial). Mereka dapat berdiri dan berjalan tak lama setelah lahir. Berbeda dengan anak babi hutan yang memiliki pola garis-garis sebagai kamuflase, anak Babi Rusa lahir dengan warna polos. Mereka akan menyusu pada induknya selama beberapa bulan dan mulai belajar mencari makan sendiri dengan meniru perilaku induknya. Anak-anak akan tinggal bersama induknya selama sekitar satu tahun atau hingga induknya siap untuk melahirkan lagi. Babi Rusa mencapai kematangan seksual pada usia sekitar satu hingga dua tahun. Di alam liar, rentang hidup mereka diperkirakan sekitar 10-15 tahun, sementara di penangkaran mereka dapat hidup hingga lebih dari 20 tahun.
Status Konservasi dan Ancaman
Masa depan Babi Rusa diselimuti oleh ketidakpastian. Menurut Daftar Merah IUCN (International Union for Conservation of Nature), status konservasi Babi Rusa bervariasi antar spesies, tetapi sebagian besar berada dalam kategori rentan terhadap kepunahan. Babi Rusa Sulawesi (B. celebensis) dan Babi Rusa Togian (B. togeanensis) terdaftar sebagai Rentan (Vulnerable), sementara Babi Rusa Maluku (B. babyrussa) terdaftar sebagai Terancam (Endangered).
Ancaman utama yang mereka hadapi berasal dari aktivitas manusia:
Perburuan Liar: Daging Babi Rusa dianggap sebagai makanan lezat di beberapa komunitas lokal di Sulawesi. Meskipun dilindungi oleh hukum Indonesia, perburuan untuk konsumsi masih terus terjadi. Selain itu, taringnya yang unik terkadang dijadikan suvenir atau barang koleksi.
Kehilangan dan Fragmentasi Habitat: Ini adalah ancaman terbesar dan paling merusak. Pembukaan hutan skala besar untuk perkebunan kelapa sawit, kakao, dan kopi, serta penebangan kayu komersial dan ilegal, telah menghancurkan sebagian besar habitat dataran rendah yang menjadi rumah bagi Babi Rusa. Habitat yang tersisa menjadi terpecah-pecah, mengisolasi populasi dan menghambat aliran gen.
Konflik dengan Manusia: Ketika hutan menyusut, Babi Rusa kadang-kadang terpaksa memasuki area pertanian untuk mencari makan, yang menyebabkan konflik dengan petani. Hal ini seringkali berakhir dengan pembunuhan hewan tersebut.
Penyakit: Populasi Babi Rusa juga rentan terhadap penyakit yang ditularkan dari babi domestik, yang dapat menyebar dengan cepat dan menyebabkan kematian massal pada populasi liar yang sudah tertekan.
Upaya Konservasi
Menyelamatkan Babi Rusa dari kepunahan memerlukan pendekatan multi-cabang yang melibatkan pemerintah, lembaga konservasi, peneliti, dan masyarakat lokal. Beberapa langkah penting yang sedang dan perlu terus dilakukan adalah:
Perlindungan Habitat: Memperkuat perlindungan kawasan konservasi yang ada, seperti taman nasional (misalnya Taman Nasional Lore Lindu dan Bogani Nani Wartabone) dan cagar alam, adalah hal yang fundamental. Selain itu, upaya restorasi koridor hutan untuk menghubungkan kembali habitat yang terfragmentasi sangat penting untuk menjaga kelangsungan hidup populasi jangka panjang.
Penegakan Hukum: Meningkatkan patroli anti-perburuan dan penegakan hukum yang tegas terhadap pelaku perburuan liar dan perdagangan ilegal Babi Rusa dan bagian tubuhnya.
Program Penangkaran (Ex-situ): Kebun binatang dan pusat konservasi di seluruh dunia, termasuk di Indonesia, memainkan peran penting dalam program penangkaran Babi Rusa. Program ini berfungsi sebagai "cadangan" genetik jika populasi di alam liar menurun drastis dan juga sebagai sarana penelitian dan edukasi publik.
Penelitian: Penelitian lebih lanjut mengenai biologi, ekologi, dan genetika Babi Rusa sangat dibutuhkan untuk merancang strategi konservasi yang lebih efektif. Memahami kebutuhan spesifik setiap spesies akan memungkinkan intervensi yang lebih tepat sasaran.
Pemberdayaan dan Edukasi Masyarakat Lokal: Melibatkan masyarakat yang tinggal di sekitar habitat Babi Rusa adalah kunci keberhasilan konservasi. Program edukasi untuk meningkatkan kesadaran akan status Babi Rusa sebagai hewan endemik yang dilindungi, serta pengembangan mata pencaharian alternatif yang berkelanjutan (seperti ekowisata), dapat mengurangi tekanan perburuan dan konflik.
Babi Rusa dalam Budaya
Bagi masyarakat adat di Sulawesi, Babi Rusa bukan hanya sekadar hewan, tetapi juga bagian dari warisan budaya dan mitologi mereka. Dalam beberapa cerita rakyat, Babi Rusa digambarkan sebagai makhluk mistis atau simbol kekuatan dan keunikan alam. Taringnya yang spektakuler sering menjadi inspirasi dalam seni ukir dan kerajinan tangan tradisional. Memahami peran budaya ini penting dalam membangun dukungan lokal untuk upaya konservasi, karena ini menghubungkan pelestarian spesies dengan pelestarian identitas budaya.
Kesimpulan: Menjaga Keajaiban Evolusi
Babi Rusa adalah bukti nyata dari keajaiban evolusi yang terjadi dalam isolasi. Dari taringnya yang menantang penjelasan sederhana hingga sistem pencernaannya yang unik dan strategi reproduksinya yang tidak biasa, setiap aspek dari Babi Rusa menceritakan kisah adaptasi selama jutaan tahun di kepulauan Sulawesi. Namun, kisah ini terancam berakhir prematur. Sebagai salah satu satwa paling ikonik di Indonesia, nasib Babi Rusa berada di tangan kita. Melalui upaya konservasi yang terpadu, penegakan hukum yang kuat, dan yang terpenting, kesadaran dan kebanggaan kolektif atas warisan alam yang luar biasa ini, kita dapat memastikan bahwa generasi mendatang masih memiliki kesempatan untuk mengagumi "babi bertanduk rusa" ini, tidak hanya dalam gambar atau cerita, tetapi juga di habitat aslinya yang rimbun di jantung Wallacea.
Komentar
Posting Komentar